السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Aku sama sekali bukanlah seorang penulis. Bukan pula ahlul ‘ilmi. Aku hanya seorang pembelajar biasa yang masih harus banyak belajar lagi dan terus belajar. Isi blogku ini hampir semuanya bukanlah karya ilmiah hasil tulisanku sendiri. Namun aku mengkompilasinya saja dari berbagai sumber yang kuhimpun menjadi satu di blogku ini, yang mana aku mengharapkan keridhoan Allah subhanahu wa ta’ala atas usahaku ini, agar kumpulan artikel ini dapat diambil manfaatnya oleh pembaca blogku ini, dan juga demi percepatan ilmu itu sendiri. Semoga bermanfaat.  “Renungan (Muhasabah/Contemplation) Diri”  oleh :RACHMATSYAH

Jumat, 16 Desember 2016

Tausiah ke-12 (Sabar)

KEUTAMAAN SABAR

Allah ta’ala telah memberikan berbagai sifat kepada orang-orang yang sabar, malahan perihal kesabaran ini oleh-Nya disebutkan dalam Al Quran lebih dari tujuh puluh tempat. Dalam sekian banyak uraian itu disertakan pula betapa besar kebaikan dan derajat yang disebabkan dengan adanya kesabaran itu. Kebaikan dan derajat beraneka warna itu dianggap sebagai buah dari perilaku sabar yang dilaksanakan oleh kaum yang sabar.

Perhatikanlah beberapa ayat yang ada di bawah ini ;


1. Dapat menjadi pemimpin sebab sabar (surah As Sajdah 24) :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا ...
Dan Kami (Allah) jadikan beberapa pemimpin diantara mereka itu dengan perintah Kami, yaitu mereka berhati sabar (teguh).

2. Menerima pahala sebab kesabaran (surah An Nahl 96) :
... وَلَنَجْزِيَنَّ  الَّذِيْنَ صَبَرُوْآ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Kami (Allah) akan memberikan kepada orang-orang yang berhati sabar itu pahala menurut amalan yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya.

3. Orang sabar berpahala rangkap (surah Al Qashash 54) :
اُولئِكَ يُؤْتَوْنَ اَجْرَهُمْ مَّرَّتَيْنِ بِمَاصَبَرُوْا...
Mereka itulah yang akan diberi dua kali lipat pahala dengan sebab kesabaran mereka.

4. Pahala orang sabar tidak terbatas (Surah Zumar 10) :
... اِنَّمَايُوَفَّى الصّبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِحِسَابٍ
Hanyasanya orang-orang yang sabar itu akan dipenuhi pahalanya tanpa ada hitungannya (karena banyaknya).

Kita tentu memaklumi bahwa semua amalan shalih itu sudah ditentukan pahalanya menurut kadar dan hitungannya tertentu, kecuali beberapa macam amalan saja, diantaranya ialah kelakuan sabar sebagaimana yang tertera dalam ayat di atas.

5. Allah senantiasa mendampingi orang sabar (surah Al Baqarah 153) :
Sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang sabar.                                               ... اِنَّ الله َمَعَ الصّبِرِيْنَ

6. Orang yang sabar dikaruniai berbagai kebaikan secara berbarengan dan tidak diberikan kepada orang lain (surah Al Baqarah 157) :
اُولئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُولئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
Merekalah orang-orang yang mendapatkan shalawat (pengampunan dan kehormatan) serta kerahmatan dari Tuhan mereka dan mereka itu pulalah orang-orang yang memperoleh petunjuk.

Juga banyak sekali hadits-hadits yang menjelaskan perihal keutamaan sifat sabar itu, diantaranya (diriwayatkan oleh Abu Na’im dan Khatib) :
Sabar adalah separuh keimanan.                                                                                         اَلصَّبْرُنِصْفُ اْلاِيْمَانِ

Suatu ketika beliau s.a.w. ditanya perihal keimanan. Lalu beliau s.a.w. menjawab (diriwayatkan oleh Thabrani) :
Termasuk kesempurnaan keimanan ialah bersifat sabar dan berlapang dada (toleransi)      اَلصَّبْرُوَالسَّمَاحَةُ

HAKIKAT SABAR DAN BAGIANNYA

Sabar yang dimaksudkan dalam istilah agama Islam ialah teguh dan tahan menetapi pengaruh yang disebabkan oleh agama untuk menghadapi atau menentang pengaruh yang ditimbulkan oleh hawa nafsu. Yang dimaksud dengan pengaruh agama ialah segala sesuatu yang dengannya itulah manusia akan memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan haq, baik yang berhubungan dengan kema’rifatan kepada Allah s.w.t dan rasul-Nya, ataupun kema’rifatan perihal perihal kemaslahatan-kemaslahatan yang erat hubungannya dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh amalan-amalan shalih. Inilah yang merupakan sifat pokok yang dengannya itu dapatlah dibedakan antara jenis manusia dengan binatang dalam mematahkan kesyahwatan yang tidak wajar.

Adapun yang dimaksud dengan pengaruh hawa nafsu itu ialah melampiaskan segala macam kesyahwatan sesuai dengan apa yang dikehendaki olehnya. Maka dari itu barangsiapa yang dapat mematahkan ini, terus tetap untuk tidak menuruti kehendak yang buruk, teguh pula kalbunya untuk melawan dan menentang kesyahwatan-kesyahwatan tadi, maka orang yang demikian inilah yang dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang tabah, sabar dan teguh. Sebaliknya jikalau ia merasa kalah, lemah dan dapat ditakhlukkan bahkan sampai dikalahkan oleh kehendak kesyahwatan yang diperintah oleh hawa nafsunya, tidak sabar menghalau dan mengusirnya, tidak tahan melawan dan menentangnya, maka orang semacam inilah yang dimasukkan dalam golongan pengikut syaithan.

Selanjutnya perlu disadari bahwa pertarungan antara pengaruh agama dengan pengaruh hawa nafsu itu ada tiga macam keadaannya, yaitu ;

Pertama ; Pengaruh hawa nafsu depat ditundukkan sama sekali, dipaksa untuk menyerah kalah, sehingga tidak mempunyai kekuatan lagi untuk mengadakan perlawanan dan penentangan apapun terhadap kekutan pengaruh agama. Hal ini dapat dicapai sampai ke puncaknya yang tertinggi dengan jalan mengekalkan kesabaran dan keteguhan untuk terus mengalahkannya itu. Jikalau ini sudah diperoleh, maka disinilah letak tepatnya ucapan ;
Barangsiapa sabar pasti memperoleh (tujuannya).                                                                   مَنْ صَبَرَظَفِرَ

Orang yang dapat mencapai tingkat ini sebenarnya amat sedikit sekali dan tentu saja ia termasuk dalam golongan kaum shiddiqin yang sangat dekat jiwanya kepada Allah ta’ala.

Kedua ; Ini adalah keadaan yang merupakan kebalikan dari keadaan yang pertama, yaitu bahwa pengaruh hawa nafsulah yang menang dan benar-benar dapat menakhlukkan pengaruh agama, sehingga pengaruh agama ini jatuh sama sekali, menyerah secara keseluruhan. Dengan demikian maka pergulatan sudah berhenti dan selesai dengan kemenangan yang besar di pihak syaithan. Maka pengaruh itu lalu menyerahkan dirinya kepada tentara syaithan dan tidak berjuang sedikitpun. Orang-orang yang kalah semacam ini adalah orang-orang yang lalai dan demikian inilah sebagian besar dari ummat manusia. Mereka terpengaruh betul-betul oleh kesyahwatannya yang salah. Kemalangan mereka sudah jelas dan mereka inilah yang merupakan musuh-musuh Allah, sekurang-kurangnya dengan hati, yakni bahwa hati mereka itu tidak menyetujui sedikitpun pada kebenaran. Merekalah yang dijelaskan sifatnya dalam firman Allah dalam surah Al Baqarah 86 :
اُلئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا الْحَيوةَ الدُّنْيَابِاْلااخِرَةِ ...
Mereka itu adalah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan akhirat.

Andaikan orang yang berdagang, maka golongan kedua ini sangat merugi sekali dan sedikitpun tidak memperoleh keuntungan.

Ketiga ; Ini adalah keadaan yang pertengahan. Peperangan yang terjadi antara dua pasukan yakni pengaruh agama dan pengaruh hawa nafsu adalah silih berganti. Kadang-kadang pengaruh agama menang, tetapi kadang-kadang sebaliknya. Inilah yang termasuk dalam golongan orang-orang yang sedang berjuang, bukan orang-orang yang sudah mendapatkan kemenangan yang gilang-gemilang. Orang-orang yang keadaannya semacam di atas ini ialah yang suka mencampurkan amalan baiknya dengan amalan buruknya. Semoga sajalah mereka ini akan diterima taubatnya oleh Allah ta’ala.

Adapun orang-orang yang sudah sama sekali tidak berjuang melawan kesyahwatannya itu adalah bagaikan binatang, bahkan dapat dikatakan lebih teresat lagi. Sebabnya ialah binatang itu tidak diberi kema’rifatan dan tidak pula mempunyai kekuasaan yang dengan keduanya ini dapat digunakan sebagai pokok perjuangannya melawan kesyahwatan-kesyahwatan tadi. Sedangkan manusia itu sudah diberi tetapi dibiarkan menganggur dan tidak terpakai sama sekali. Menganggurkan itu saja sudah merupakan kekurangan dalam akalnya yang tampak jelas dalam perbuatannya.

Sebenarnya apabila ketakwaan serta kekuatan kepercayaan itu sudah mendalam, berurat akar dalam hati, terutama kepercayaan yang bersangkutan dengan kebaikan dan pahala yang akan diterimanya di akhirat nanti, maka akan semakin mudahlah mengamalkan kesabaran itu.

TEMPAT YANG MEMERLUKAN KESABARAN

Setiap manusia sama sekali tidak dapat meninggalkan kesabaran itu, jikalau ia ingin menjadi orang yang baik dan shalih. Dalam segala hal-ihwal dan keadaan ia tetap memerlukan kesabaran hati, keteguhan dan ketahanan. Mengapa demikian ?

Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang dihadapi oleh semua orang di dalam kehidupannya di dunia ini, pasti tidak akan terlepas dari dua hal, yaitu ;
a. Ada yang sesuai dengan kehendak hawa nafsunya dan
b. Ada yang tidak sesuai dengan kehendak hawa nafsunya dah bahkan membencinya.

Dalam semua keadaan ini ia sangat memerlukan adanya kesabaran dan keteguhan hati. Oleh sebab semua yang dihadapinya itu pasti tidak terlepas dari dua hal di atas, maka bagaimanapun juga jikalau ia menginginkan menjadi seorang hamba Tuhan yang baik, pastilah perlu sekali ia bersifat sabar untuk menanggulangi kedua macam hal itu.

Baiklah kita kupas sekedarnya kedua bagian di atas.

Bagian pertama ; yang sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Yang dianggap masuk dalam bagian ini yakni yang sesuai dengan kehendak hawa nafsunya ialah bahwa setiap manusia itu pasti menginginkan kesehatan, keselamatan diri, berharta, berpangkat, memperoleh kemasyhuran, banyak keluarga, luas lapangan pencahariannya, banyak pengikut dan pembantunya dan semua kelezatan duniawiah.

Menilik hal-hal yang diingini diatas, maka dapat kita maklumi betapa perlunya manusia itu untuk bersikap sabar dan teguh, terutama untuk memperoleh hal-hal diatas, kemudian menggunakannya pula menurut yang wajar. Tujuannya bersabar dalam hal-hal diatas itu ialah agar memberikan tekanan seperlunya pada jiwanya sendiri, jangan sampai terlampau dilepaskan keinginannya itu sehingga bagaikan kuda yang tidak terkendalikan , sangat condong ataupun berkecimpung terus dalam kelezatan, sekalipun menurut agama diperbolehkan, sehingga melampaui batas yang sebenarnya dan menyebabkan nafsunya itu keluar sampai ke tingkat berlebih-lebihan dan kedurhakaan.

Oleh karena itu Allah ta’ala sudah menakut-nakuti benar-benar kepada seluruh hamba-Nya, perihal fitnahnya harta, isteri atau suami dan anak. Dalam hal itu Allah s.w.t. berfirman dalam surah Al Munafiqun 9 :
يآَيُّهَاالَّذِيْنَ اَامَنُوْا لاَتُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلآَ اَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِاللهِ ...
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu semua dilalaikan oleh harta dan anak-anakmu sehingga terlupa ingat (zikir) kepada Allah.

Allah ta’ala berfirman pula dalam surah Taghabun 14 :
... اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلاَدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ ...
Sesungguhnya diantara golongan isteri-isterimu dan anak-anakmu itu ada yang menjadi musuhmu (banyak memberikan godaan duniawiah), maka itu berhati-hatilah terhadap mereka itu.

Maka dari itu benar-benar dapat disebut seorang jantan, apabila seorang itu bersikap sabar dalam keadaan sejahtera dan kuasa. Makna kesabaran disini ialah bahwa dengan sebab kesejahteraan dan kekuasaannya itu janganlah menyandarkan nafsunya pada hal-hal yang semata-mata menjadi keinginan nafsunya itu, jangan pula dibiarkan untuk bersenang-senang selalu untuk memuaskan nafsu tersebut. Tetapi sebaliknya hendaknya menjaga hak-hak Allah ta’ala, mana-mana yang wajib ditunaikan menurut perintah-perintah agama, yang berupa harta harus dibelanjakan kepada kebaikan, badannya untuk memberi pertolongan pada sesama makhluk, lidahnya untuk berkata yang benar dan sopan dan demikian selanjutnya. Ringkasnya apa saja yang dilimpahkan oleh Allah ta’ala kepada dirinya yang berupa kenikmatan yang tidak terhitung banyaknya itu, supaya digunakan sesuai dengan kehendak Zat yang Memberikan yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Kesabaran sebagaimana yang diuraikan diatas itu sangat erat hubungannya dengan rasa syukur (terima kasih pada kenikmatan Tuhan).

Hanya saja bersikap sabar diwaktu dalam keadaan lapang rizki (keadaan kaya) adalah lebih berat dalam tanggungan jiwa, sebab sabar dalam keadaan ini tentulah disertai dengan kekuasaan. Sebagai contoh ialah bahwa seorang yang lapar diwaktu tidak ada makanan, tentu lebih cepat dapat menahan sabarnya daripada jikalau ada makanan yang lezat-lezat dan kuasa untuk memakannya. Oleh sebab itu jelaslah bahwa fitnah kekayaan itu amat besar sekali.

Bagian kedua ; Yang tidak sesuai dengan kehendak nafsunya. Hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak hawa nafsunya, biasanya tidak dibarengi oleh tabiat dan perwatakannya. Ini ada yang berhubungan erat dengan usaha manusia itu sendiri seperti melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala ataupun kemaksiatan, tetapi ada pula yang tidak berhubungan dengan usahanya seperti datangnya bencana dan malapetaka atau kemalangan. Sementara itu ada pula yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan usahanya, namun begitu ia masih dapat berdaya upaya untuk melenyapkannya, seperti melepaskan diri dari orang yang hendak menyakiti dirinya dengan jalan memberi balasan atau perlawanan padanya. Dengan demikian, maka ada tiga macam.Untuk lengkapnya baiklah dijelaskan bagian masing-masing itu.

Hal pertama ; yang berhubungan dengan usahanya. Ini dapat dipecah menjadi dua yaitu ;

A. Hal ketaatan. Seseorang itu memerlukan kesabaran untuk menunaikan ini, sebab lazimnya memang kurang disukai atau tidak disukai sama sekali oleh hawa nafsu itu, misalnya saja dengan sebab kemalasan dalam menunaikan shalat, atau sebab kekikiran seperti memberikan zakat, ataupun sebab kedua-duanya yakni malas dan kikir seperti beribadat haji dan jihad (perang fi sabilillah). Semuanya itu tentulah memerlukan adanya kesabaran.
B. Hal kemaksiatan. Allah ta’ala menunjukkan kumpulan kemaksiatan itu dalam firman-Nya dalam surah An Nahl 90 :
Allah melarang perbuatan keji, pelanggaran dan kedurhakaan.                    ... وَيَنْهَىا عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ ...

Cobalah fikirkan itu dengan ketenangan hati. Bukankah manusia itu amat memerlukan sekali adanya kesabaran untuk menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang berupa kemaksiatan itu, lebih-lebih lagi yang sebenarnya tidak dirasakan terlampau berat untuk jiwa, seperti mengumpat, dusta, ria’ (pamer), suka disanjung dan dipuji baik secara samar-samar atau terang-terangan, berbagai macam senda gurau yang sampai menyakitkan hati, ataupun berbagai ucapan yang dimaksudkan untuk memberi hinaan, cemoohan pada orang lain, menganggap kecil keadaan orang ataupun mencaci orang-orang yang sudah meninggal dunia.

Oleh karena hal-hal diatas itu sudah dijadikan kebiasaan dalam percakapan, maka seolah-olah hilanglah anggapan orang bahwa hal-hal di atas tadi sebenarnya jelek dan tidak sopan dalam perasaan hati, karena memang sudah hampir menjadi kegemaran umum, padahal sebenarnya termasuk dalam golongan perusak yang terbesar, baik sebagai perusak jiwa, akhlak atau kebaikan beragama.

Hal kedua ; yang datangnya itu tidak ada hubungannya dengan usahanya, tetapi manusia itu sendiri dapat berdaya upaya untuk menolaknya. Misalnya ialah andaikata ia dianiaya, disakiti atau tidak dienakkan perasaannya, baik dengan perbuatan atau ucapan, juga yang melanggar keamanan diri ataupun hartanya.

Sabar dalam keadaan di atas, dengan cara tidak mengadakan pembalasan, kadang-kadang termasuk dalam hukum wajib dan kadang-kadang hanyalah sebagai keutamaan saja yakni sunnat.

Dalam hal ini Allah ta’ala berfirman dalam surah Al Muzzammil 10 :
وَاصْبِرْعَلَىا مَايَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًاجَمِيْلاً
Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan itu dan menghindarlah dari mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.

Allah ta’ala berfirman pula dalam surah Ali ‘Imran 186 :
... وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَّ الَّذِيْنَ اُوتُواالْكِتبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْآ اَذًى كَثِيْرًا وَاِنْ تَصْبِرُوْ وَتَتَّقُوْافَاِنَّ ذَا لِكَ مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ
Dan kamu semua akan mendengar banyak perkataan yang menyakitkan hati dari orang-orang keturunan ahlulkitab yang dahulu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Tuhan (menyembah selain Alah). Jikalau kamu semua sabar dan bertakwa, sesungguhnya hal itu termasuk keteguhan hati.

Maksudnya tentulah bersabar untuk memberikan pembalasan dari perbuatan buruk yang mereka lakukan. Oleh karena itu pula Allah ta’ala amat memuji sekali kepada orang yang melepaskan hak-haknya sebagai pembalas untuk berqishash (balasan hukuman) dan lain-lain sebagainya, sebagaimana firman-Nya dalam surah An Nahl 126 :
 وَاِنْ عَاقَبْـتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَاعُوْقِبْـتُمْ بِهِى وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَخَيْرٌ لِّلصّبِرِيْنَ
Jikalau kamu semua memberikan balasan, maka balaslah serupa kesalahan yang diperbuatnya kepada kamu, tetapi jikalau kamu semua bersabar, sesungguhnya itulah yang terbaik bagi orang-orang yang berhati sabar.

Dalam pada itu rasulullah s.a.w. juga bersabda :
صِلْ مَنْ قَطَعَكَ, وَاَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ, وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
Eratkanlah hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, berilah orang yang menghalang-halangi pemberiannya padamu dan ampunilah orang yang menganiayamu.

Hal ketiga ; sesuatu keadaan yang ada diluar dari usaha dirinya seperti datangnya marabahaya atau musibah. Contohnya ialah kematian orang yang dianggap mulia, anak dan lain-lain, kebinasaan harta benda karena kecurian, kebakaran dan sebagainya, hilangnya kesehatan karena sakit atau lain-lain, buta mata, hilangnya atau rusaknya salah satu anggota tubuh dan bencana yang lain-lain lagi. Sabar dalam keadaan ini adalah setinggi-tinggi tingkat kesabaran.

Tingkat kesabaran dalam menghadapi musibah-musibah ini baru dapat diperoleh dengan meninggalkan kesedihan yang terlampau mendalam dan meninggalkan kelakuan seperti menyobek-nyobek baju, memukuli pipi sendiri ataupun menangis menjerit-jerit, ataupun mengubah adat-istiadat kebiasaan dalam cara berpakaian, tidur atau makan. Hal-hal ini semua janganlah dilakukan, sebab ia sendiri pasti dapat mengusahakan untuk tidak melakukannya itu. Oleh sebab itu, seyogyanya semua itu dijauhi dan sebagai gantinya hendaklah ia menunjukkan kerelaan hatinya atas takdir dari Allah ta’ala dan berlakulah sebagai biasa. Segala sesuatu yang dikasihinya, anak, harta, kesehatan, anggota tubuh itu semuanya sebenarnya hanyalah sebagai amanat atau titipan Tuhan yang disimpankan untuk sementara waktu kepada manusia yang dikehendaki oleh-Nya, maka janganlah menyesal atau berduka-cita, jikalau titipan atau amanat tadi dimintanya kembali ataupun diambil secara mendadak dan sangat mengejutkan.

Ada suatu peristiwa yang terjadi di zaman rasulullah s.a.w. yaitu perihal ummu Sulaim rahimahallah. Demikian ia bercerita ;

Pada suatu hari anakku meninggal dunia, sedang disaat itu suamiku tidak ada (bepergian). Aku berusaha supaya kematian anakku tidak diketahui dengan tiba-tiba oleh suamiku sedatangnya dari perjalanannya nanti. Oleh karenanya, maka jenazah anak itu saya letakkan di suatu sudut rumah. Setelah itu saya siapkan makanan. Demi ia datang, iapun makanlah dengan enak sekali. Kemudian suamiku bertanya, “Bagaimanakah keadaan anak kita sekarang ?”. Aku menjawab, “Alhamdulillah, sejak sakitnya itu tidak pernah setenang malam ini”.

Setelah itu aku berpakaian seindah yang dapat kukenakan, agar timbullah hasratnya pada diriku. Kemudian tidak lama sesudah itu ia pun mengumpuli aku dan memuaskan hajatnya. Setelah itu aku mulai berkata, “Ah, apakah Kanda tidak heran kepada tetangga-tetangga kita itu ?”. Ia bertanya, “Mengapa mereka ?”. Aku berkata, “Mereka itu diberi pinjaman, tetapi setelah diminta kembali, tiba-tiba mereka menyatakan kedukacitaan yang luar biasa sekali”. Suamiku berkata, “Buruk sekali kelakuan mereka itu”. Disaat itu baru aku memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi dan berkata, “Begini Kanda, anak kita itu bukankah pinjaman saja dari Allah ta’ala dan kini Allah telah mengambilnya kembali”. Ia sadar apa yang kumaksudkan lalu mengucapkan, “Alhamdulillah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.

Pagi-pagi benar suamiku itu pergi ke tempat rasulullah s.a.w. dan memberitahukan hal-ihwalku sejak kedatangannya di rumah sampai pagi itu. Kemudian rasulullah s.a.w. bersabda :
Ya Allah, berilah keberkahan untuk kedua suami isteri itu pada malam harinya tadi  اَللّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فِى لَيْلَتِهِمَا

Yang menceritakan hadits ini berkata, “Sesungguhnya saya telah melihat tujuh orang anak (anak Abu Thalhah dan Ummu Sulaim) semua di masjid membaca Al Quran dengan hafalan” (diriwayatkan oleh Thabrani dan lain-lain).

Seseorang yang mendapatkan musibah lalu hatinya pedih dan airmatanya bercucuran, apakah masih termasuk dalam golongan orang saba dan tahan hati ?

Jawabnya, “Ya, masih termasuk orang yang sabar dan tahan, sebab kepedihan hati dan mencucurnya airmata itu tidak mengeluarkannya dari batas nama kesabaran. Sebabnya ialah karena perbuatan sedemikian itu sudah tentu tidak dapat dielakkan oleh manusia manapun dan hal itu sudah menjadi kelaziman manusia biasa. Bahkan rasulullah s.a.w. sendiri diwaktu puteranya yang bernama Ibrahim meninggal dunia, maka menggenanglah airmata di kedua mata beliau s.a.w. yang mulia itu dan setelah itu ditanya sebabnya, lalu bersabda :
هذِهِ رَحْمَةٌ وَاِنَّمَا يَرْحَمُ الله ُمِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
Ini adalah sebagai tanda kasih sayang. Allah itu hanyalah memberi kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang bersifat kasih sayang pula.

Bahkan perilaku yang tidak melampaui batas sebagaimana di atas itu tidaklah keluar dari bentuk kerelaan.

Dengan adanya pembagian sebagaimana yang sudah dirincikan dimuka, maka tahulah kita bahwa kewajiban bersikap sebar itu adalah umum dan merata kepada seluruh macam keadaan, hal-ihwal dan perbuatan. Sehingga sekalipun seseorang yang mengasingkan diri, pasti juga masih memerlukan kesabaran, karena harus menghadapi godaan syaithan dalam batinnya. Ingatlah bahwa getaran lintasan hati itu tidak mungkin akan diam atau berhenti. Ia tetap bekerja terus dan menghabiskan waktu yang banyak sekali. Malahan kadang-kadang orang yang menyendiri itu memikirkan berbagai daya upaya untuk memenuhi kesyahwatannya. Jangan sekali-kali disangka bahwa syaithan itu akan menyia-nyiakan kesempatan untuk tetap mengisi hati yang sedang kosong, tetapi bahkan syaithan itu akan terus berjalan di seluruh tubuh manusia bagaikan jalannya darah dalam tubuh. Alirannya adalah bagaikan udara dalam gelas. Bagaimanakah kita dapat mengosongkan gelas itu dari udara jikalau didalamnya tidak kita beri air yang penuh ataupun benda-benda lain yang dapat memenuhi ruangan gelas tersebut. Kalau kita ingin menghilangkan udara itu tanpa mengisikan sesuatu yang lain sebagai gantinya, maka berartilah kita menginginkan sesuatu yang pasti tidak akan terpenuhi sama sekali. Yang terang dapat terjadi ialah menurut kadar kekosongan air itulah yang tentu dimasuki oleh udara.

Demikian pula halnya hati yang sedang sibuk memikirkan urusan agama, maka dengan penuhnya kesibukan itu bagi syaithan tidak ada tempat yang terluang bagi petualangannya, penggodaannya dan ajakan sesatnya. Apabila tidak demikian, maka setiap orang yang lalai, tentulah dalam detik lalainya itu tidak ada yang menempati kekosongan sebab kelalaiannya tadi melainkan syaithan. Inilah yang merupakan kawan setia dikala lalainya tadi.

Oleh sebab itu Allah ta’ala berfirman dalam surah Az Zukhruf 36 :
وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمنِ نُقَيِّضْ لَهُو شَيْطنًافَهُوَلَهُوقَرِيْنٌ
Barangsiapa yang tidak memperdulikan pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah, maka Kami (Allah) berikan untuknya makhluk yang jahat (syaithan) dan itulah yang menjadi sahabatnya.

Dalam sebuah hadit disebutkan :
Sesungguhnya Allah ta’ala itu membenci kepada pemuda yang menganggur   اِنَّ الله َتَعَالَى يَبْغَضُ الشَّابَّ الْفَارِغَ

Mengapa orang yang menganggur itu dibenci ? Sebabnya ialah karena seseorang itu apabila menganggur, tidak mengerjakan sesuatu yang menyibukkan batinnya serta lahiriahnya untuk sesuatu yang mubah dapat dijadikan bahan pertolongan bagi agamanya. Yang nampak hanya lahiriahnya saja yang menganggur, tetapi batiniahnya tidaklah demikian. Hatinya terus bekerja, mengangan-angankan yang bukan-bukan yang biasanya tentu akan merupakan pangkal kejahatan dan kemaksiatan. Jadi dalam kalbunya itu bersaranglah syaithan, bertelur dan menetaskan pula telurnya. Anak-anak syaithan inipun makin lama makin bertambah banyak dan akhirnya berjejal-jejal disitu.

Maka dari itu ketika Hallaj ditanya perihal tasawwuf, ia menjawab, “Itulah hatimu, jikalau tidak engkau gunakan untuk bekerja, ia sendiri yang akan mengerjakan kamu (mengajak kamu menuruti kemauannya)”.

Jadi secara ringkasnya ialah bahwa hakikat sabar yang sempurna ialah sabar dari segala gerakan yang tercela sedang gerakan dari batin adalah lebih utama untuk disabari. Inilah sabar yang kekal yang tidak dapat diputuskan melainkan oleh kematian.

Marilah kita memohon kepada Allah semoga memperoleh kebagusan taufik-Nya dengan kerahmatan dan keutamaan-Nya.

USAHA UNTUK BERSABAR

Ketahuilah bahwa Zat yang menurunkan penyakit, pasti menurunkan pula obatnya dan menjanjikan kesembuhan jikalau obat itu digunakan, melainkan mana-mana yang telah dikehendaki sebagai pengecualiannya. Sabar itu sekalipun amat payah sekali diperolehnya bahkan sulit untuk didapatkan, tetapi untuk menghasilkannya itu masih tetap bukan suatu hal yang mustahil. Caranya hanyalah mungkin dengan menggunakan adukan ilmu dan amal.

Dimuka sudah kami uraikan bahwa sabar itu adalah seumpama pertarungan antara pengaruh agama dengan pengaruh hawa nafsu. Setiap satu diantara dua benda yang bertarung, tentulah ingin mengalahkan lawannya. Oleh sebab itu rasanya tidak ada jalan lain untuk kita, jikalau kita benar-benar ingin menjadi manusia yang baik, yaitu dengan mengalahkan yang satu yang kita anggap salah dan memenangkan yang satunya lagi yang kita anggap benar. Jadi singkatnya kita wajib memenangkan pengaruh agama dan mengalahkan pengaruh hawa nafsu dan kesyahwatan.

Adapun mengokohkan pengaruh agama itu dapatlah menempuh dua macam jalan yaitu ;

Pertama ; memberikan dorongan jiwa untuk mengerjar sungguh-sungguh faedah-faedah yang ditimbulkan oleh kesungguhan dan betapa besar buahnya untuk agama dan keduniaan kita. Kesungguhan ini tentulah berhubungan dengan pengekangan hawa nafsu dan mengenyahkan timbulnya kesyahwatan yang tidak wajar, tidak bena dan tidak diridhai oleh Allah ta’ala. Caranya ialah dengan memperbanyak ingatan kepada keterangan-keterangan yang telah kami cantumkan dimuka mengenai keutamaan sabar dan betapa bagus akibatnya untuk kita sendiri di dunia dan akhirat.

Kedua ; hendaklah pengaruh hawa nafsu itu kita lawan secara mati-matian, baik dengan sekaligus atau cara yang berangsur-angsur, sehingga pada akhirnya akan tertindaslah segala sifat-sifat buruk yang sudah meresap akibat tidak adanya kesabaran itu.

Tentang cara melemahkan pengaruh hawa nafsu ialah hendaknya memutuskan sama sekali sebab-sebab yang mempengaruhi timbulnya hawa nafsu itu, seperti memejamkan mata yang tentunya dapat menggerakkan hati, ataupun dengan menghindarkan diri dari melihat segala macam-macam bentuk gambaran yang menyebabkan tumbuhnya kesyahwatan secara menyeluruh. Boleh juga menggunakan kesenangan yang dihalalkan yang serupa dengan apa yang diingini semacam kawin. Sebab apa saja yang diinginkan oleh hati itu sebenarnya oleh agama sudah disediakan dengan menempuh cara dan peraturan agar menjadi halal dan tidak terlarang. Ingatlah bahwa seseorang yang sudah membiasakan dirinya untuk menyalahi hawa nafsu, maka tentu dapat mengalahkannya, asal saja ia mau berbuat demikian.

Demikian secara pokoknya bagaimana kalau kita hendak mengobati jiwa kita untuk dapat mempunyai sifat kesabaran dalam segala macam halnya.

Sumber :

Bimbingan untuk Mencapai Tingkat Mu’min (Disusun oleh Moh. Abdai Rathomy) yang merupakan terjemahan dari Maw ‘izhotul Mu’miniin (Disusun oleh Al’Allamah almarhum Asysyaikh Muhammad Jamaluddin Alqasimi Addimasyqi) yang merupakan ringkasan dari Ihyaa’ ‘Uluumuddiin/Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama (Disusun oleh Imam Al Ghazali)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar