KEUTAMAAN
SABAR
Allah ta’ala telah memberikan
berbagai sifat kepada orang-orang yang sabar, malahan perihal kesabaran ini
oleh-Nya disebutkan dalam Al Quran lebih dari tujuh puluh tempat. Dalam sekian
banyak uraian itu disertakan pula betapa besar kebaikan dan derajat yang
disebabkan dengan adanya kesabaran itu. Kebaikan dan derajat beraneka warna itu
dianggap sebagai buah dari perilaku sabar yang dilaksanakan oleh kaum yang
sabar.
Perhatikanlah beberapa ayat yang
ada di bawah ini ;
1. Dapat menjadi pemimpin sebab
sabar (surah As Sajdah 24) :
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةٌ
يَّهْدُوْنَ بِاَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا ...
Dan Kami (Allah) jadikan
beberapa pemimpin diantara mereka itu dengan perintah Kami, yaitu mereka
berhati sabar (teguh).
2. Menerima pahala sebab
kesabaran (surah An Nahl 96) :
...
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْآ
اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَاكَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Kami (Allah) akan memberikan
kepada orang-orang yang berhati sabar itu pahala menurut amalan yang telah
mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya.
3. Orang sabar berpahala rangkap
(surah Al Qashash 54) :
اُولئِكَ يُؤْتَوْنَ اَجْرَهُمْ
مَّرَّتَيْنِ بِمَاصَبَرُوْا...
Mereka itulah yang akan diberi
dua kali lipat pahala dengan sebab kesabaran mereka.
4. Pahala orang sabar tidak
terbatas (Surah Zumar 10) :
... اِنَّمَايُوَفَّى
الصّبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِحِسَابٍ
Hanyasanya orang-orang yang
sabar itu akan dipenuhi pahalanya tanpa ada hitungannya (karena banyaknya).
Kita tentu memaklumi bahwa semua
amalan shalih itu sudah ditentukan pahalanya menurut kadar dan hitungannya
tertentu, kecuali beberapa macam amalan saja, diantaranya ialah kelakuan sabar
sebagaimana yang tertera dalam ayat di atas.
5. Allah senantiasa mendampingi
orang sabar (surah Al Baqarah 153) :
Sesungguhnya Allah itu beserta
orang-orang yang sabar. ... اِنَّ الله َمَعَ
الصّبِرِيْنَ
6. Orang yang sabar dikaruniai
berbagai kebaikan secara berbarengan dan tidak diberikan kepada orang lain
(surah Al Baqarah 157) :
اُولئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوتٌ
مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُولئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ
Merekalah orang-orang yang
mendapatkan shalawat (pengampunan dan kehormatan) serta kerahmatan dari Tuhan
mereka dan mereka itu pulalah orang-orang yang memperoleh petunjuk.
Juga banyak sekali hadits-hadits
yang menjelaskan perihal keutamaan sifat sabar itu, diantaranya (diriwayatkan
oleh Abu Na’im dan Khatib) :
Sabar adalah separuh keimanan. اَلصَّبْرُنِصْفُ اْلاِيْمَانِ
Suatu ketika beliau s.a.w.
ditanya perihal keimanan. Lalu beliau s.a.w. menjawab (diriwayatkan oleh
Thabrani) :
Termasuk kesempurnaan keimanan ialah bersifat sabar dan
berlapang dada (toleransi) اَلصَّبْرُوَالسَّمَاحَةُ
HAKIKAT
SABAR DAN BAGIANNYA
Sabar yang dimaksudkan dalam
istilah agama Islam ialah teguh dan tahan menetapi pengaruh yang disebabkan
oleh agama untuk menghadapi atau menentang pengaruh yang ditimbulkan oleh hawa
nafsu. Yang dimaksud dengan pengaruh agama ialah segala sesuatu yang dengannya
itulah manusia akan memperoleh petunjuk ke jalan yang benar dan haq, baik yang
berhubungan dengan kema’rifatan kepada Allah s.w.t dan rasul-Nya, ataupun
kema’rifatan perihal perihal kemaslahatan-kemaslahatan yang erat hubungannya
dengan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh amalan-amalan shalih. Inilah yang
merupakan sifat pokok yang dengannya itu dapatlah dibedakan antara jenis
manusia dengan binatang dalam mematahkan kesyahwatan yang tidak wajar.
Adapun yang dimaksud dengan
pengaruh hawa nafsu itu ialah melampiaskan segala macam kesyahwatan sesuai
dengan apa yang dikehendaki olehnya. Maka dari itu barangsiapa yang dapat
mematahkan ini, terus tetap untuk tidak menuruti kehendak yang buruk, teguh
pula kalbunya untuk melawan dan menentang kesyahwatan-kesyahwatan tadi, maka
orang yang demikian inilah yang dapat dimasukkan dalam golongan orang-orang
tabah, sabar dan teguh. Sebaliknya jikalau ia merasa kalah, lemah dan dapat
ditakhlukkan bahkan sampai dikalahkan oleh kehendak kesyahwatan yang diperintah
oleh hawa nafsunya, tidak sabar menghalau dan mengusirnya, tidak tahan melawan
dan menentangnya, maka orang semacam inilah yang dimasukkan dalam golongan
pengikut syaithan.
Selanjutnya perlu disadari bahwa
pertarungan antara pengaruh agama dengan pengaruh hawa nafsu itu ada tiga macam
keadaannya, yaitu ;
Pertama
; Pengaruh hawa nafsu depat ditundukkan sama sekali, dipaksa untuk menyerah
kalah, sehingga tidak mempunyai kekuatan lagi untuk mengadakan perlawanan dan
penentangan apapun terhadap kekutan pengaruh agama. Hal ini dapat dicapai
sampai ke puncaknya yang tertinggi dengan jalan mengekalkan kesabaran dan
keteguhan untuk terus mengalahkannya itu. Jikalau ini sudah diperoleh, maka
disinilah letak tepatnya ucapan ;
Barangsiapa sabar pasti
memperoleh (tujuannya). مَنْ صَبَرَظَفِرَ
Orang yang dapat mencapai tingkat
ini sebenarnya amat sedikit sekali dan tentu saja ia termasuk dalam golongan
kaum shiddiqin yang sangat dekat jiwanya kepada Allah ta’ala.
Kedua
; Ini adalah keadaan yang merupakan kebalikan dari keadaan yang pertama, yaitu
bahwa pengaruh hawa nafsulah yang menang dan benar-benar dapat menakhlukkan
pengaruh agama, sehingga pengaruh agama ini jatuh sama sekali, menyerah secara
keseluruhan. Dengan demikian maka pergulatan sudah berhenti dan selesai dengan
kemenangan yang besar di pihak syaithan. Maka pengaruh itu lalu menyerahkan
dirinya kepada tentara syaithan dan tidak berjuang sedikitpun. Orang-orang yang
kalah semacam ini adalah orang-orang yang lalai dan demikian inilah sebagian
besar dari ummat manusia. Mereka terpengaruh betul-betul oleh kesyahwatannya
yang salah. Kemalangan mereka sudah jelas dan mereka inilah yang merupakan
musuh-musuh Allah, sekurang-kurangnya dengan hati, yakni bahwa hati mereka itu
tidak menyetujui sedikitpun pada kebenaran. Merekalah yang dijelaskan sifatnya
dalam firman Allah dalam surah Al Baqarah 86 :
اُلئِكَ الَّذِيْنَ اشْتَرَوُا
الْحَيوةَ الدُّنْيَابِاْلااخِرَةِ ...
Mereka itu adalah orang-orang
yang membeli kehidupan dunia dengan akhirat.
Andaikan orang yang berdagang,
maka golongan kedua ini sangat merugi sekali dan sedikitpun tidak memperoleh
keuntungan.
Ketiga
; Ini adalah keadaan yang pertengahan. Peperangan yang terjadi antara dua
pasukan yakni pengaruh agama dan pengaruh hawa nafsu adalah silih berganti.
Kadang-kadang pengaruh agama menang, tetapi kadang-kadang sebaliknya. Inilah
yang termasuk dalam golongan orang-orang yang sedang berjuang, bukan
orang-orang yang sudah mendapatkan kemenangan yang gilang-gemilang. Orang-orang
yang keadaannya semacam di atas ini ialah yang suka mencampurkan amalan baiknya
dengan amalan buruknya. Semoga sajalah mereka ini akan diterima taubatnya oleh
Allah ta’ala.
Adapun orang-orang yang sudah
sama sekali tidak berjuang melawan kesyahwatannya itu adalah bagaikan binatang,
bahkan dapat dikatakan lebih teresat lagi. Sebabnya ialah binatang itu tidak
diberi kema’rifatan dan tidak pula mempunyai kekuasaan yang dengan keduanya ini
dapat digunakan sebagai pokok perjuangannya melawan kesyahwatan-kesyahwatan
tadi. Sedangkan manusia itu sudah diberi tetapi dibiarkan menganggur dan tidak
terpakai sama sekali. Menganggurkan itu saja sudah merupakan kekurangan dalam
akalnya yang tampak jelas dalam perbuatannya.
Sebenarnya apabila ketakwaan
serta kekuatan kepercayaan itu sudah mendalam, berurat akar dalam hati, terutama
kepercayaan yang bersangkutan dengan kebaikan dan pahala yang akan diterimanya
di akhirat nanti, maka akan semakin mudahlah mengamalkan kesabaran itu.
TEMPAT
YANG MEMERLUKAN KESABARAN
Setiap manusia sama sekali tidak
dapat meninggalkan kesabaran itu, jikalau ia ingin menjadi orang yang baik dan
shalih. Dalam segala hal-ihwal dan keadaan ia tetap memerlukan kesabaran hati,
keteguhan dan ketahanan. Mengapa demikian ?
Ketahuilah bahwa segala sesuatu
yang dihadapi oleh semua orang di dalam kehidupannya di dunia ini, pasti tidak
akan terlepas dari dua hal, yaitu ;
a. Ada yang sesuai dengan
kehendak hawa nafsunya dan
b. Ada yang tidak sesuai dengan
kehendak hawa nafsunya dah bahkan membencinya.
Dalam semua keadaan ini ia sangat
memerlukan adanya kesabaran dan keteguhan hati. Oleh sebab semua yang
dihadapinya itu pasti tidak terlepas dari dua hal di atas, maka bagaimanapun
juga jikalau ia menginginkan menjadi seorang hamba Tuhan yang baik, pastilah
perlu sekali ia bersifat sabar untuk menanggulangi kedua macam hal itu.
Baiklah kita kupas sekedarnya
kedua bagian di atas.
Bagian
pertama ; yang sesuai dengan kehendak hawa nafsunya. Yang dianggap masuk
dalam bagian ini yakni yang sesuai dengan kehendak hawa nafsunya ialah bahwa
setiap manusia itu pasti menginginkan kesehatan, keselamatan diri, berharta,
berpangkat, memperoleh kemasyhuran, banyak keluarga, luas lapangan
pencahariannya, banyak pengikut dan pembantunya dan semua kelezatan duniawiah.
Menilik hal-hal yang diingini
diatas, maka dapat kita maklumi betapa perlunya manusia itu untuk bersikap
sabar dan teguh, terutama untuk memperoleh hal-hal diatas, kemudian
menggunakannya pula menurut yang wajar. Tujuannya bersabar dalam hal-hal diatas
itu ialah agar memberikan tekanan seperlunya pada jiwanya sendiri, jangan
sampai terlampau dilepaskan keinginannya itu sehingga bagaikan kuda yang tidak
terkendalikan , sangat condong ataupun berkecimpung terus dalam kelezatan,
sekalipun menurut agama diperbolehkan, sehingga melampaui batas yang sebenarnya
dan menyebabkan nafsunya itu keluar sampai ke tingkat berlebih-lebihan dan
kedurhakaan.
Oleh karena itu Allah ta’ala
sudah menakut-nakuti benar-benar kepada seluruh hamba-Nya, perihal fitnahnya
harta, isteri atau suami dan anak. Dalam hal itu Allah s.w.t. berfirman dalam
surah Al Munafiqun 9 :
يآَيُّهَاالَّذِيْنَ اَامَنُوْا
لاَتُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلآَ اَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِاللهِ ...
Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu semua dilalaikan oleh harta dan anak-anakmu sehingga terlupa
ingat (zikir) kepada Allah.
Allah ta’ala berfirman pula dalam
surah Taghabun 14 :
... اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلاَدِكُمْ
عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ ...
Sesungguhnya diantara golongan
isteri-isterimu dan anak-anakmu itu ada yang menjadi musuhmu (banyak memberikan
godaan duniawiah), maka itu berhati-hatilah terhadap mereka itu.
Maka dari itu benar-benar dapat
disebut seorang jantan, apabila seorang itu bersikap sabar dalam keadaan
sejahtera dan kuasa. Makna kesabaran disini ialah bahwa dengan sebab
kesejahteraan dan kekuasaannya itu janganlah menyandarkan nafsunya pada hal-hal
yang semata-mata menjadi keinginan nafsunya itu, jangan pula dibiarkan untuk
bersenang-senang selalu untuk memuaskan nafsu tersebut. Tetapi sebaliknya
hendaknya menjaga hak-hak Allah ta’ala, mana-mana yang wajib ditunaikan menurut
perintah-perintah agama, yang berupa harta harus dibelanjakan kepada kebaikan,
badannya untuk memberi pertolongan pada sesama makhluk, lidahnya untuk berkata
yang benar dan sopan dan demikian selanjutnya. Ringkasnya apa saja yang
dilimpahkan oleh Allah ta’ala kepada dirinya yang berupa kenikmatan yang tidak
terhitung banyaknya itu, supaya digunakan sesuai dengan kehendak Zat yang
Memberikan yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Kesabaran sebagaimana yang diuraikan
diatas itu sangat erat hubungannya dengan rasa syukur (terima kasih pada
kenikmatan Tuhan).
Hanya saja bersikap sabar diwaktu
dalam keadaan lapang rizki (keadaan kaya) adalah lebih berat dalam tanggungan
jiwa, sebab sabar dalam keadaan ini tentulah disertai dengan kekuasaan. Sebagai
contoh ialah bahwa seorang yang lapar diwaktu tidak ada makanan, tentu lebih
cepat dapat menahan sabarnya daripada jikalau ada makanan yang lezat-lezat dan
kuasa untuk memakannya. Oleh sebab itu jelaslah bahwa fitnah kekayaan itu amat
besar sekali.
Bagian
kedua ; Yang tidak sesuai dengan kehendak nafsunya. Hal-hal yang tidak
sesuai dengan kehendak hawa nafsunya, biasanya tidak dibarengi oleh tabiat dan
perwatakannya. Ini ada yang berhubungan erat dengan usaha manusia itu sendiri
seperti melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala ataupun kemaksiatan, tetapi ada
pula yang tidak berhubungan dengan usahanya seperti datangnya bencana dan
malapetaka atau kemalangan. Sementara itu ada pula yang sebenarnya tidak ada
hubungannya dengan usahanya, namun begitu ia masih dapat berdaya upaya untuk
melenyapkannya, seperti melepaskan diri dari orang yang hendak menyakiti
dirinya dengan jalan memberi balasan atau perlawanan padanya. Dengan demikian,
maka ada tiga macam.Untuk lengkapnya baiklah dijelaskan bagian masing-masing
itu.
Hal pertama ; yang berhubungan dengan usahanya.
Ini dapat dipecah menjadi dua yaitu ;
A. Hal ketaatan. Seseorang itu memerlukan
kesabaran untuk menunaikan ini, sebab lazimnya memang kurang disukai atau tidak
disukai sama sekali oleh hawa nafsu itu, misalnya saja dengan sebab kemalasan
dalam menunaikan shalat, atau sebab kekikiran seperti memberikan zakat, ataupun
sebab kedua-duanya yakni malas dan kikir seperti beribadat haji dan jihad
(perang fi sabilillah). Semuanya itu tentulah memerlukan adanya kesabaran.
B. Hal kemaksiatan. Allah ta’ala menunjukkan
kumpulan kemaksiatan itu dalam firman-Nya dalam surah An Nahl 90 :
Allah melarang perbuatan keji,
pelanggaran dan kedurhakaan.
...
وَيَنْهَىا عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ
...
Cobalah
fikirkan itu dengan ketenangan hati. Bukankah manusia itu amat memerlukan
sekali adanya kesabaran untuk menghindarkan diri dari melakukan hal-hal yang
berupa kemaksiatan itu, lebih-lebih lagi yang sebenarnya tidak dirasakan
terlampau berat untuk jiwa, seperti mengumpat, dusta, ria’ (pamer), suka
disanjung dan dipuji baik secara samar-samar atau terang-terangan, berbagai
macam senda gurau yang sampai menyakitkan hati, ataupun berbagai ucapan yang
dimaksudkan untuk memberi hinaan, cemoohan pada orang lain, menganggap kecil
keadaan orang ataupun mencaci orang-orang yang sudah meninggal dunia.
Oleh karena
hal-hal diatas itu sudah dijadikan kebiasaan dalam percakapan, maka seolah-olah
hilanglah anggapan orang bahwa hal-hal di atas tadi sebenarnya jelek dan tidak
sopan dalam perasaan hati, karena memang sudah hampir menjadi kegemaran umum,
padahal sebenarnya termasuk dalam golongan perusak yang terbesar, baik sebagai
perusak jiwa, akhlak atau kebaikan beragama.
Hal kedua ; yang datangnya itu tidak ada
hubungannya dengan usahanya, tetapi manusia itu sendiri dapat berdaya upaya
untuk menolaknya. Misalnya ialah andaikata ia dianiaya, disakiti atau tidak
dienakkan perasaannya, baik dengan perbuatan atau ucapan, juga yang melanggar
keamanan diri ataupun hartanya.
Sabar dalam
keadaan di atas, dengan cara tidak mengadakan pembalasan, kadang-kadang
termasuk dalam hukum wajib dan kadang-kadang hanyalah sebagai keutamaan saja
yakni sunnat.
Dalam hal ini
Allah ta’ala berfirman dalam surah Al Muzzammil 10 :
وَاصْبِرْعَلَىا مَايَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ
هَجْرًاجَمِيْلاً
Bersabarlah
terhadap apa yang mereka katakan itu dan menghindarlah dari mereka dengan cara
yang sebaik-baiknya.
Allah ta’ala
berfirman pula dalam surah Ali ‘Imran 186 :
... وَلَتَسْمَعُنَّ
مِنَّ الَّذِيْنَ اُوتُواالْكِتبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِيْنَ اَشْرَكُوْآ اَذًى
كَثِيْرًا وَاِنْ تَصْبِرُوْ وَتَتَّقُوْافَاِنَّ ذَا
لِكَ
مِنْ عَزْمِ اْلاُمُوْرِ
Dan kamu
semua akan mendengar banyak perkataan yang menyakitkan hati dari orang-orang
keturunan ahlulkitab yang dahulu dan dari orang-orang yang mempersekutukan
Tuhan (menyembah selain Alah). Jikalau kamu semua sabar dan bertakwa,
sesungguhnya hal itu termasuk keteguhan hati.
Maksudnya
tentulah bersabar untuk memberikan pembalasan dari perbuatan buruk yang mereka
lakukan. Oleh karena itu pula Allah ta’ala amat memuji sekali kepada orang yang
melepaskan hak-haknya sebagai pembalas untuk berqishash (balasan hukuman) dan
lain-lain sebagainya, sebagaimana firman-Nya dalam surah An Nahl 126 :
وَاِنْ عَاقَبْـتُمْ
فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَاعُوْقِبْـتُمْ بِهِى وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ
لَهُوَخَيْرٌ لِّلصّبِرِيْنَ
Jikalau kamu
semua memberikan balasan, maka balaslah serupa kesalahan yang diperbuatnya
kepada kamu, tetapi jikalau kamu semua bersabar, sesungguhnya itulah yang
terbaik bagi orang-orang yang berhati sabar.
Dalam pada itu
rasulullah s.a.w. juga bersabda :
صِلْ مَنْ قَطَعَكَ,
وَاَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ, وَاعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَكَ
Eratkanlah
hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, berilah orang yang
menghalang-halangi pemberiannya padamu dan ampunilah orang yang menganiayamu.
Hal ketiga ; sesuatu keadaan yang ada diluar dari
usaha dirinya seperti datangnya marabahaya atau musibah. Contohnya ialah
kematian orang yang dianggap mulia, anak dan lain-lain, kebinasaan harta benda
karena kecurian, kebakaran dan sebagainya, hilangnya kesehatan karena sakit
atau lain-lain, buta mata, hilangnya atau rusaknya salah satu anggota tubuh dan
bencana yang lain-lain lagi. Sabar dalam keadaan ini adalah setinggi-tinggi
tingkat kesabaran.
Tingkat kesabaran dalam
menghadapi musibah-musibah ini baru dapat diperoleh dengan meninggalkan kesedihan
yang terlampau mendalam dan meninggalkan kelakuan seperti menyobek-nyobek baju,
memukuli pipi sendiri ataupun menangis menjerit-jerit, ataupun mengubah
adat-istiadat kebiasaan dalam cara berpakaian, tidur atau makan. Hal-hal ini
semua janganlah dilakukan, sebab ia sendiri pasti dapat mengusahakan untuk
tidak melakukannya itu. Oleh sebab itu, seyogyanya semua itu dijauhi dan
sebagai gantinya hendaklah ia menunjukkan kerelaan hatinya atas takdir dari
Allah ta’ala dan berlakulah sebagai biasa. Segala sesuatu yang dikasihinya,
anak, harta, kesehatan, anggota tubuh itu semuanya sebenarnya hanyalah sebagai
amanat atau titipan Tuhan yang disimpankan untuk sementara waktu kepada manusia
yang dikehendaki oleh-Nya, maka janganlah menyesal atau berduka-cita, jikalau
titipan atau amanat tadi dimintanya kembali ataupun diambil secara mendadak dan
sangat mengejutkan.
Ada suatu peristiwa yang terjadi
di zaman rasulullah s.a.w. yaitu perihal ummu Sulaim rahimahallah. Demikian ia bercerita
;
Pada suatu hari anakku meninggal
dunia, sedang disaat itu suamiku tidak ada (bepergian). Aku berusaha supaya
kematian anakku tidak diketahui dengan tiba-tiba oleh suamiku sedatangnya dari
perjalanannya nanti. Oleh karenanya, maka jenazah anak itu saya letakkan di
suatu sudut rumah. Setelah itu saya siapkan makanan. Demi ia datang, iapun
makanlah dengan enak sekali. Kemudian suamiku bertanya, “Bagaimanakah keadaan
anak kita sekarang ?”. Aku menjawab, “Alhamdulillah, sejak sakitnya itu tidak
pernah setenang malam ini”.
Setelah itu aku berpakaian
seindah yang dapat kukenakan, agar timbullah hasratnya pada diriku. Kemudian
tidak lama sesudah itu ia pun mengumpuli aku dan memuaskan hajatnya. Setelah
itu aku mulai berkata, “Ah, apakah Kanda tidak heran kepada tetangga-tetangga
kita itu ?”. Ia bertanya, “Mengapa mereka ?”. Aku berkata, “Mereka itu diberi
pinjaman, tetapi setelah diminta kembali, tiba-tiba mereka menyatakan
kedukacitaan yang luar biasa sekali”. Suamiku berkata, “Buruk sekali kelakuan
mereka itu”. Disaat itu baru aku memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi dan
berkata, “Begini Kanda, anak kita itu bukankah pinjaman saja dari Allah ta’ala
dan kini Allah telah mengambilnya kembali”. Ia sadar apa yang kumaksudkan lalu
mengucapkan, “Alhamdulillah. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.
Pagi-pagi benar suamiku itu pergi
ke tempat rasulullah s.a.w. dan memberitahukan hal-ihwalku sejak kedatangannya
di rumah sampai pagi itu. Kemudian rasulullah s.a.w. bersabda :
Ya Allah, berilah keberkahan untuk kedua suami isteri itu
pada malam harinya tadi اَللّهُمَّ بَارِكْ لَهُمَا فِى
لَيْلَتِهِمَا
Yang menceritakan hadits ini
berkata, “Sesungguhnya saya telah melihat tujuh orang anak (anak Abu Thalhah
dan Ummu Sulaim) semua di masjid membaca Al Quran dengan hafalan” (diriwayatkan
oleh Thabrani dan lain-lain).
Seseorang yang mendapatkan
musibah lalu hatinya pedih dan airmatanya bercucuran, apakah masih termasuk
dalam golongan orang saba dan tahan hati ?
Jawabnya, “Ya, masih termasuk
orang yang sabar dan tahan, sebab kepedihan hati dan mencucurnya airmata itu
tidak mengeluarkannya dari batas nama kesabaran. Sebabnya ialah karena
perbuatan sedemikian itu sudah tentu tidak dapat dielakkan oleh manusia manapun
dan hal itu sudah menjadi kelaziman manusia biasa. Bahkan rasulullah s.a.w.
sendiri diwaktu puteranya yang bernama Ibrahim meninggal dunia, maka
menggenanglah airmata di kedua mata beliau s.a.w. yang mulia itu dan setelah
itu ditanya sebabnya, lalu bersabda :
هذِهِ رَحْمَةٌ وَاِنَّمَا يَرْحَمُ
الله ُمِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
Ini adalah sebagai tanda kasih
sayang. Allah itu hanyalah memberi kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya yang
bersifat kasih sayang pula.
Bahkan perilaku yang tidak
melampaui batas sebagaimana di atas itu tidaklah keluar dari bentuk kerelaan.
Dengan adanya pembagian
sebagaimana yang sudah dirincikan dimuka, maka tahulah kita bahwa kewajiban
bersikap sebar itu adalah umum dan merata kepada seluruh macam keadaan,
hal-ihwal dan perbuatan. Sehingga sekalipun seseorang yang mengasingkan diri,
pasti juga masih memerlukan kesabaran, karena harus menghadapi godaan syaithan
dalam batinnya. Ingatlah bahwa getaran lintasan hati itu tidak mungkin akan
diam atau berhenti. Ia tetap bekerja terus dan menghabiskan waktu yang banyak
sekali. Malahan kadang-kadang orang yang menyendiri itu memikirkan berbagai
daya upaya untuk memenuhi kesyahwatannya. Jangan sekali-kali disangka bahwa
syaithan itu akan menyia-nyiakan kesempatan untuk tetap mengisi hati yang
sedang kosong, tetapi bahkan syaithan itu akan terus berjalan di seluruh tubuh
manusia bagaikan jalannya darah dalam tubuh. Alirannya adalah bagaikan udara
dalam gelas. Bagaimanakah kita dapat mengosongkan gelas itu dari udara jikalau
didalamnya tidak kita beri air yang penuh ataupun benda-benda lain yang dapat
memenuhi ruangan gelas tersebut. Kalau kita ingin menghilangkan udara itu tanpa
mengisikan sesuatu yang lain sebagai gantinya, maka berartilah kita
menginginkan sesuatu yang pasti tidak akan terpenuhi sama sekali. Yang terang
dapat terjadi ialah menurut kadar kekosongan air itulah yang tentu dimasuki
oleh udara.
Demikian pula halnya hati yang
sedang sibuk memikirkan urusan agama, maka dengan penuhnya kesibukan itu bagi
syaithan tidak ada tempat yang terluang bagi petualangannya, penggodaannya dan
ajakan sesatnya. Apabila tidak demikian, maka setiap orang yang lalai, tentulah
dalam detik lalainya itu tidak ada yang menempati kekosongan sebab kelalaiannya
tadi melainkan syaithan. Inilah yang merupakan kawan setia dikala lalainya
tadi.
Oleh sebab itu Allah ta’ala
berfirman dalam surah Az Zukhruf 36 :
وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمنِ
نُقَيِّضْ لَهُو شَيْطنًافَهُوَلَهُوقَرِيْنٌ
Barangsiapa yang tidak
memperdulikan pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah, maka Kami (Allah) berikan
untuknya makhluk yang jahat (syaithan) dan itulah yang menjadi sahabatnya.
Dalam sebuah hadit disebutkan :
Sesungguhnya Allah ta’ala itu
membenci kepada pemuda yang menganggur اِنَّ الله َتَعَالَى يَبْغَضُ الشَّابَّ الْفَارِغَ
Mengapa orang yang menganggur itu
dibenci ? Sebabnya ialah karena seseorang itu apabila menganggur, tidak
mengerjakan sesuatu yang menyibukkan batinnya serta lahiriahnya untuk sesuatu
yang mubah dapat dijadikan bahan pertolongan bagi agamanya. Yang nampak hanya
lahiriahnya saja yang menganggur, tetapi batiniahnya tidaklah demikian. Hatinya
terus bekerja, mengangan-angankan yang bukan-bukan yang biasanya tentu akan
merupakan pangkal kejahatan dan kemaksiatan. Jadi dalam kalbunya itu
bersaranglah syaithan, bertelur dan menetaskan pula telurnya. Anak-anak
syaithan inipun makin lama makin bertambah banyak dan akhirnya berjejal-jejal
disitu.
Maka dari itu ketika Hallaj
ditanya perihal tasawwuf, ia menjawab, “Itulah hatimu, jikalau tidak engkau
gunakan untuk bekerja, ia sendiri yang akan mengerjakan kamu (mengajak kamu
menuruti kemauannya)”.
Jadi secara ringkasnya ialah
bahwa hakikat sabar yang sempurna ialah sabar dari segala gerakan yang tercela
sedang gerakan dari batin adalah lebih utama untuk disabari. Inilah sabar yang
kekal yang tidak dapat diputuskan melainkan oleh kematian.
Marilah kita memohon kepada Allah
semoga memperoleh kebagusan taufik-Nya dengan kerahmatan dan keutamaan-Nya.
USAHA
UNTUK BERSABAR
Ketahuilah bahwa Zat yang
menurunkan penyakit, pasti menurunkan pula obatnya dan menjanjikan kesembuhan
jikalau obat itu digunakan, melainkan mana-mana yang telah dikehendaki sebagai
pengecualiannya. Sabar itu sekalipun amat payah sekali diperolehnya bahkan
sulit untuk didapatkan, tetapi untuk menghasilkannya itu masih tetap bukan
suatu hal yang mustahil. Caranya hanyalah mungkin dengan menggunakan adukan
ilmu dan amal.
Dimuka sudah kami uraikan bahwa
sabar itu adalah seumpama pertarungan antara pengaruh agama dengan pengaruh
hawa nafsu. Setiap satu diantara dua benda yang bertarung, tentulah ingin
mengalahkan lawannya. Oleh sebab itu rasanya tidak ada jalan lain untuk kita,
jikalau kita benar-benar ingin menjadi manusia yang baik, yaitu dengan
mengalahkan yang satu yang kita anggap salah dan memenangkan yang satunya lagi
yang kita anggap benar. Jadi singkatnya kita wajib memenangkan pengaruh agama
dan mengalahkan pengaruh hawa nafsu dan kesyahwatan.
Adapun mengokohkan pengaruh agama
itu dapatlah menempuh dua macam jalan yaitu ;
Pertama
; memberikan dorongan jiwa untuk mengerjar sungguh-sungguh faedah-faedah yang
ditimbulkan oleh kesungguhan dan betapa besar buahnya untuk agama dan keduniaan
kita. Kesungguhan ini tentulah berhubungan dengan pengekangan hawa nafsu dan
mengenyahkan timbulnya kesyahwatan yang tidak wajar, tidak bena dan tidak
diridhai oleh Allah ta’ala. Caranya ialah dengan memperbanyak ingatan kepada
keterangan-keterangan yang telah kami cantumkan dimuka mengenai keutamaan sabar
dan betapa bagus akibatnya untuk kita sendiri di dunia dan akhirat.
Kedua
; hendaklah pengaruh hawa nafsu itu kita lawan secara mati-matian, baik dengan
sekaligus atau cara yang berangsur-angsur, sehingga pada akhirnya akan
tertindaslah segala sifat-sifat buruk yang sudah meresap akibat tidak adanya
kesabaran itu.
Tentang cara melemahkan pengaruh
hawa nafsu ialah hendaknya memutuskan sama sekali sebab-sebab yang mempengaruhi
timbulnya hawa nafsu itu, seperti memejamkan mata yang tentunya dapat
menggerakkan hati, ataupun dengan menghindarkan diri dari melihat segala
macam-macam bentuk gambaran yang menyebabkan tumbuhnya kesyahwatan secara
menyeluruh. Boleh juga menggunakan kesenangan yang dihalalkan yang serupa
dengan apa yang diingini semacam kawin. Sebab apa saja yang diinginkan oleh
hati itu sebenarnya oleh agama sudah disediakan dengan menempuh cara dan peraturan
agar menjadi halal dan tidak terlarang. Ingatlah bahwa seseorang yang sudah
membiasakan dirinya untuk menyalahi hawa nafsu, maka tentu dapat
mengalahkannya, asal saja ia mau berbuat demikian.
Sumber :
Bimbingan untuk Mencapai Tingkat Mu’min (Disusun oleh
Moh. Abdai Rathomy) yang merupakan terjemahan dari Maw ‘izhotul Mu’miniin (Disusun
oleh Al’Allamah almarhum Asysyaikh Muhammad Jamaluddin Alqasimi Addimasyqi)
yang merupakan ringkasan dari Ihyaa’ ‘Uluumuddiin/Menghidupkan Ilmu-Ilmu
Agama (Disusun oleh Imam Al Ghazali)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar